krl punya cerita…

hari itu aku pulang ontime jam 4 dan langsung cabut ke stasiun juanda buat naek krl ekspress ke bekasi jam 16.32. Karena aku pengen menikmati perjalananku, maka aku sengaja sampe juanda jam 4 lewat 15 menit, so aku bisa dapet duduk meskipun harus ikut ke kota dulu.
Pas aku naek eskalator ke lantai dua dan jalan (dengan santai) menuju loket pembelian tiket, tiba-tiba aku diserobot sama ibu-ibu muda. hehehe…dalam hatiku, ngapain juga buru-buru. eh, ga taunya waktu mau naek ke lantai 3, tempat krl brenti, si ibu itu nggak naek ke peron yang menuju ke kota, tapi langsung naek ke peron yang arah bekasi. Dalam hatiku lagi…yaelah, ngapain juga pakai nyerobot kalau ntar aku yang dapet bangku…hehehe…kan biasanya kalo dari kota udah mulai penuh tuh.
nah, habis itu, ada yang lucu lagi nih. pas aku masuk ke gerbong pertama…biasanya aku cari tempat duduk yang paling pinggir. jadi ga kedesek-desek. kalau di tengah, wahh kebayang, begitu sampai kota, orang-orang itu masuk ke gerbong dengan cara brutal (khususnya untuk krl jam 5.15). sampai gencet-gencetan…suerr! ini ga boong. apalagi aku yang sering naek ke gerbong paling depan di kota, jadi penumpukan penumpang lebih banyak di situ. nah, biasanya pas mereka masuk gerbong, mereka udah kayak mau memangsa tempat duduk, akhirnya dengan gerakan super kilat mereka duduk di kanan dan kiriku, dan haislnya…aku yang kejepit! fiuhh…itulah kenapa aku suka duduk di paling pinggir.
kembali ke pengalamanku hari itu. pas aku masuk gerbong ternyata yang bagian pinggir-pinggir udah diduduki semua. o..itu ada satu, agak jauh, aku jalan aja kesana. nah, pas jalan menuju seat inceranku, ada bapak-bapak dari arah seberang. dia jalan cepet seakan merasa terancam. dan voila! dia berhasil! aku kalah cepet. yah, gapapa deh…toh masalah seat begini adalah masalah rezeki. hehehe….
nah, tapi yang aku jadi bingung sekaligus gemes n jengkel…pas kita dah sampai stasiun jakarta kota, ternyata si bapak itu turun! yaelahhh….capeee deeeh….kalau cuma trayek dari juanda ke kota ngapain juga bela-belain duduk di pinggir. dan dia yang kaya ga rela banget kalau seat pinggir itu aku duduki, dia turun pas kira2 aku ga mungkin berpindah lagi (kan udah diserbu ma yang baru naek dari jakarta kota)…halah pak..pak…gitu…gitu amat sih!!
aku udah hampir 3 tahun naek krl. selalu ekspres. sebenarnya berasa berat banget di kantong, tapi…mau naek ekonomi takut, udah jadi paranoid kali! tau sendiri kan gimana kejamnya krl ekonomi di jakarta. dalam waktu 3 tahun itu, begitu banyak suka duka yang kualami. dari masih penumpang baru, sibuk nanya-nanya ke petugas mana krl yang bener. secara di stasiun-stasiun tidak ramah pendatang dan penumpang baru kayak aku. kalau nggak banyak bertanya bisa sesat sampai bogor. juga waktu awal-awal aku selalu naek dari stasiun bekasi, padahal harusnya aku bisa naek dari stasiun pondok kopi. tapi waktu aku tanya petugas, katanya ga bisa. huh…ternyata bisa! kan lumayan ngirit waktu dan ongkos!
trus kalau kita naek krl, mau nggak mau kita jadi tergantung ma masinisnya. kalau lagi lambat, ya udah capek aja tuh berdiri (kalau bernagkat kantor, aku ga pernah dapet duduk, karena naeknya bukan dari bekasi). kalau lagi cepet sih asyik..rekor tercepat pondok kopi – juanda adalah 25 menit. cuma sekali itu doang…hehehe….
urusan tempat duduk, selain yang aku ceritain pas pulang di atas tadi, ada triknya juga kalau naek pas berangkat kantor. dulu kan krlku ga brenti di manggarai, sekarang sih udah brenti. nah, itu jadi momen yang pas untuk ambil alih tempat duduk orang. tapi kita mesti merhatiin orang-orang yang biasanya turun di manggarai. deketin tuh pelan-pelan, posisikan diri di depannya, dan pas dia berdiri…srettt…duduk deh!! cuma sayangnya, kalau krlnya lambat, orang-prang yang turun manggarai jadi lebih dikit. soalnya mereka udah ditinggal ama krl yang ke sudirman tanah abang. yah apess deh…paling nungguin orang yang turun di gondangdia.
omong-omong gondangdia, aku inget ada sepasang suami istri yang badannya subur-subur gitu. mereka biasanya pake baju serasi dan kompak. yang bapaknya suka tidur sambil megangin tas istrinya dan istrinya biasanya sih baca koran. mereka selalu turun gondangdia. dan aku seneng kalau ambil alih tempat duduk mereka. hehehe…secara mereka subur-subur, jadi bekas tempat duduk mereka longgar. beda kalau yang nempatin sebelumnya kurus, pasti jadi sempit. hihi..coba aja!
pernah juga pulang ke bekasi, naek krl dari jam 4 baru sampai pondok kopi jam 8. atau sebaliknya berangkat jam 7an baru sampai jam setengah 10. nah pernah tuh, pas berangkat krl ditahan lama banget di cipinang. karena pengen cepet, akhirnya aku turun lewat pintu masinis, banyak juga penumpang lain yang turun. pas aku nyebrang jalan buat cari angkot…eh…tiba-tiba tuh krl jalan, cepet lagi! huahh…apess! tapi sejak itu, pengalamanku, seberapa lama ditahannya krl, masih lebih cepet nungguin di dalem krl sampai dia jalan lagi. karena…jalanan jauh lebih macet!! well..itu sih pengalamanku.
banyak banget cerita-cerita di dalam krl. mungkin next time bakal aku ceritain lagi. dari yang jualan penganan, jus, baju, sampai ttm sesama penumpang…so, krl emang punya cerita!

A Piece of Memory in China – Part 2

Hari Pertama di Negeri Antah Berantah

[tulisan ini mungkin agak mellow, karena berisikan hari terberatku di negeri bambu]

Namanya Richard Xiansheng (Mr. Richard). Dialah adalah penghubungku dan orang yang mengurusi segala tetek bengek sekolah dan asramaku di Beijing ini. Kata agen yang di Jakarta, Mr. Richard ini bisa bicara bahasa Inggris, jadi harusnya aku nggak perlu khawatir bagaimana berkomunikasi dengannya, mengingat aku belum bisa terlalu mengandalkan bahasa Chinaku.

Perasaan tidak enak mulai muncul ketika aku pertama kali bertemu dengan Richard di bandara pada saat dia menjemputku. Setelah berjabat dengan keras dan sedikit terburu-buru, Richard langsung menggiringku ke mobilnya yang di parkir di lapangan parkir (ya iyalah…masa’ di kolam..). Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir itulah perasaan tidak enak mendera dengan hebatnya. Bagaimana tidak? Richard terus bicara tanpa berhenti, dalam bahasa China dengan logat Beijing (yang terkenal dengan penambahan –er di belakang kata dan membuat mereka seperti kumur-kumur setiap kali bicara).

Kalian tahu..pada saat aku berangkat ke Beijing untuk belajar bahasa China ini, sebenarnya aku sudah cukup lama belajar bahasa tersebut. Tapi karena di kotaku saat itu tempat belajar bahasa China belum banyak, dan setiap kali aku mau naik level ternyata teman-temanku sudah berguguran di tengah jalan. Akhirnya aku harus menerima lari sendirian, artinya lari di level paling menthok 3 sendirian ngak naek-naek lagi…fiuhh…apess… Tapi aku rajin belajar lho… Dengan modal level 1-ku yang sampai 5 kali, level 2 hingga 3 kali, dan level 3 yang baru sekali, plus belajar sendiri, maka aku cukup PeDe membawa diriku merantau ke China. Aku pikir, setidaknya kemampuan dasar sudah kumiliki. Tapi ternyata dugaanku salah besarr….

Aku tahu kemampuanku terselip dan tersembunyi setelah aku menyadari aku nggak paham sedikitpun yang Richard ocehkan sepanjang perjalanan ke tempat parkir. Aku hanya paham ketika dia tanya pertanyaan dasar,  seperti siapa namamu? Namaku Maya.  Aku bahkan masih terbengong-bengong mendengar dia bicara yang seperti kumur-kumur nggak jelas. Ketika kami sampai di mobilnya dia, aku menyerah. Aku bilang sama Richard, please stop talking in Chinese. My Chinese is not good. I don’t understand any words you said. Hah! Richard keliatan shock! Mungkin karena dia mendapatkan informasi dari agen di kotaku bahwa aku sudah memiliki dasar berbahasa China. Hehehe…rasain kamu, Richard! Sekarang kamu yang harus berbahasa Inggris!

Dengan situasi antara aku dan Richard yang saling berusaha mengerti perkataan masing-masing, Richard banyak bercerita tentang Beijing dan hal-hal yang kami lewati. Aku ingin sekali menceritakan banyak hal yang dia ceritakan, tapi itu tidak mungkin, karena aku juga hanya paham 30% dari yang dia ocehkan. Selebihnya…? Well…aku kan pandai berakting, pura-pura sangat mengerti. Hihihi…

Yang jelas, saat itu aku tidak bisa tertawa. Aku panik mendengar Richard bicara dan aku panik melihat semua tanda-tanda jalan dan papan-papan di jalan. Semua berhuruf Hanzi (kanji China)!! Gubrakkk…Bagaimana aku bakal menjalani kehidupan disini???? Kalau hanya untuk membaca tulisan China, aku harus membuka kamus. Butuh sekitar 2 menit paling cepat untuk melihat arti satu huruf. Dan satu huruf itu hanya sepersekian dari satu kalimat. Membayangkan saja aku sudah ingin pulang ke Indonesia. Negara dimana tulisannya masih bisa dibaca dan bukan cuma dilihat saja tanpa tahu maknanya.

Kembali ke Richard. Dia tidak langsung membawaku ke universitas. Dia meminta maklumku karena harus mengajak dulu ke suatu tempat. Ada urusannya katanya. Aku sih terserah aja, secara aku tanpa dia mungkin akan dideportasi. Ternyata dia mengajakku ke tempat temannya di sebuah lingkungan elit di Beijing. Seingetku dia bilang kalau lingkungan tersebut adalah tempat para diplomat tinggal. Jadi mereka rata-rata orang asing. Ketika masuk ke kompleks itu, aku sempet lupa aku berada di Beijing. Hehe…setidaknya petunjuk jalannya menggunakan bahasa Inggris. Sayangnya, kami tidak lama di sana. Sebentar banget malah. Setelah itu aku diajak mampir lagi ke pom bensin. Jujur aja, kesan pertamaku tentang Beijing adalah kurang bersih dan kurang rapi. Kecuali tempat-tempat internasional, seperti bandara, atau juga jalan-jalan tol dan highway. Selain itu, aku melihat toko-toko di kanan kiri jalan yang terlihat seperti kurang rapi dan kurang teratur. Demikian juga dengan pom bensin yang kami datangi. Well…pom bensinnya seperti pom bensin versi lama di Indonesia yang belum direnovasi. Kebayang kan? Udah gitu tambah shock, ketika Richard pakai teriak-teriak segala waktu manggil petugasnya, kayak nggak beradab gitu. Heh..bakal kayak apa ni culture shock yang akan kualami selama 5 minggu ke depan…

Akhirnya, setelah lebih dari satu setengah jam, aku sampai juga di kampusku yang semoga bakal jadi kampus tercinta. Setidaknya aku akan berada di sini sampai 5 minggu ke depan. Begitu masuk kompleks kampus, suasananya jauh berbeda dengan kesan pertama yang kudapat tadi. Beijing Language Culture University pada musim semester pendek ini banyak diisi oleh pelajar-pelajar asing yang ingin memperdalam bahasa China, ya seperti aku ini.

Kampusnya sangat menyenangkan. Rindang dan asri. Banyak kafe dimana-mana. Terlihat juga banyak mahasiswa asing berlalu lalang naik sepeda. Aku juga takjub melihat begitu banyak fasilitas olahraga. Bayangkan saja, untuk kampus yang sebenarnya tidak terlalu besar ini, langsung terlihat ada 4 lapangan tenis dan 8 lapangan basket (hiperbola nggak ya? kayaknya bener deh hitunganku..kalau salah ya maaf..). Setelah bertanya-tanya dimanakah asramaku, asrama no. 2, akhirnya ketemu juga asrama no. 2 di depan lapangan basket persis. Jadi pemandangan orang-orang yang lagi maen basket dan joging di sekitar taman kampus yang luaaas banget…

Richard nganterin aku daftar ulang asramaku. Aku dapet kamar di lantai 3, tanpa lift. Okelah untuk ke depannya aku memang harus berolahraga, tapi kebayang kan harus bawa koperku naek ke lantai 3 dengan handle yang patah (read previous part). Fiuhh..walaupun Richard bantuin, aku kasian juga liatnya..tapi aku juga ga kuat, mengingat aku bawa batu dalam koper. Hehehe…

Sepertinya aku melewatkan cerita tentang penjaga asramanya. Ibu-ibu separuh baya yang sama sekali tidka bisa berbahasa Inggris, dengan logat yang ternyata jauh lebih kental daripada Richard. Kalau Richard saja aku tidak paham bicaranya, maka aku seperti mendengar kaset rusak saja kalau Si Penjaga Asrama bicara. Dia bilang (tentu saja dengan bantuan terjemahan dari Richard) kalau asrama ini campuran. Terdiri atas 6 lantai. Dimana masing-masing lantai ada sekitar 30 kamar dengan dua tempat tidur. Masing-masing lantai juga disediakan satu buah dapur dan 2 buah mesin cuci pakai koin. Harga kamar ini 50 yuan atau sekitar 70 ribu rupiah semalem. Cukup mahal sebenarnya. Katanya aku bisa saja cari yang off-campus gitu…tapi kalau hanya untuk 5 minggu, sepertinya itu terlalu merepotkan. Aku terima saja yang ini.

Ketika aku sampai kamar, fiuh..aku lega melihat kamarnya cukup bersih. Kamar mandinya juga sangat bersih. Ada tvnya pula. Cuma aku kurang nyaman dengan meja belajarnya, jadi selama aku di Beijing, aku nggak pernah pakai meja belajarnya dan belajar di atas tempat tidur. Nggak papalah, kan aku bisa sembunyiin kakiku di balik selimut. Katanya, teman sekamarku adlah orang Korea Selatan. Dia sudah mulai kuliah lebih dulu dan juga mengambil program semester pendek.

Pada akhirnya tibalah Richard harus meninggalkanku. Sebenarnya aku enggan sendirian, tapi bersama Richard juga males. Orangnya aneh. Dia kasih aku nomor telponnya, untuk jaga-jaga kalau terjadi sesuatu atau sekedar bertanya sesuatu. Ketika dia sudah pergi,aku sendirian. Di kamar. Tanpa tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba aku merasa sangat kesepian. Sangat kesepian. Aku nggak pernah selama hidupku merasa sendirian seperti ini. Semua pikiran-pikiran buruk jadi berkeliaran di benakku, bagaimana kalau banjir, bagaimana kalau petir, dan bahkan aku seperti merasakan ada gempa, yang mungkin hanya khayalanku saja.

Sekarang aku baru tahu, itu adalah salah satu culture shock ketika kita studi di tempat asing. Rasanya sangat tidak menyenangkan. Untuk mengobati perasaanku itu, akhirnya aku menelpon Indonesia, tanpa peduli lagi berapa banyak pulsa yang bakalan habis. Aku bawa kartu pasca bayarku saat itu.

Setelah itu, aku mencoba membunuh kesepian dan kesendirian dengan melihat tv. Tidak berhasil. Karena semua channel tidak ada yang berbahasa Inggris, kecuali saluran informasi cuaca. Aku mencoba tidur, tapi perutku lapar. Aku harus bangkit. Aku tidak bisa hanya berguling di kasur saja. Tapi aku rasanya tidak sanggup. aku ingin pulang, aku tidak peduli lagi dengan studiku di sini yang telah menghabiskan banyak rupiah..huaaa……………………………………………..

Dengan berat hati, aku memaksakan untuk keluar kamar. Saat itu sudah pukul 4 sore. Sebenarnya cuaca hari itu sangat bagus. Ketika aku keluar kamar, kulihat begitu banyak kaum muda dan tua yang sangat giat berolahraga. Wah, ini sangat beda dengan di Indonesia. Mungkin karena suasana kampus yang nyaman, jadi olahraga pun terasa nikmat. Aku berjalan pelan untuk membuang waktu sambil (berusaha) menikmati sekelilingku. Berjalan ke arah yang tadi sudah kulewati ketika pertama kali datang. Karena aku tidak ingin resiko tersesat. Aku nyoba cari supermarket untuk beli minuman dan makanan, serta beberapa perlengkapan lainnya. Whoah….sudah jalan jauh, kok nggak kelihatan satu pun toko? Akhirnya aku berpikir untuk menyeberangi jalan besar di depan kampus, karena aku lihat begitu banyak orang-orang yang sedang menikmati indahnya sore ini (bagi mereka). Yaps! Ada satu toko kelontong kulihat. Aku ambil air mineral, tisu (secara kamar mandi di sini hanya ada shower dan wastafel juga toilet kering), mi instan…eh…yang mana nih yang harus kubeli? Mana yang halal buatku? Gawat! Aku lupa menghafalkan karakter “ham” aku juga lupa bahasa lisannya! Wah, bahaya! Akhirnya aku hanya bisa bertanya, mana mi instan yang rasa sapi?

Aku pikir bahasa Chinaku lumayan bisa dimengerti, setidaknya Richard bisa mengerti sedikit. Tapi ternyata, si penjual sama sekali tidak paham. Bahasa China mengenal beberapa nada dalam setiap kata. Kalau salah mengucapkan nada, arti kata bisa beda. Misal, seharusnya ingin mengatakan ibu salah menjadi kuda, atau pusat bahasa salah jadi rumah sakit! Fatal kan? Di toko kelontong ini aku juga mencari sendok. Karena aku lihat tidak ada, aku tanyakan lagi ke penjual…tobaaat….sudah dicoba sepuluh kali, masih juga nggak paham. Pengalaman ngomong “sendok” dalam bahasa China memang bikin aku agak trauma sampai sekarang. Rasanya jadi selalu salah. Akhirnya aku lebih memilih bahasa tubuh dan maen ambil barang yang aku cari, juga membayar pakai pecahan terbesar karena aku masih bingung dengan pecahan Yuan. Oya, di China, kita harus membayar tas plastik yang kita pakai. Kecuali kamu membawanya sendiri. Hehe…

Dengan berbekal belanjaan, khususnya mi instan, aku balik lagi ke kamar. Jalan kaki sekitar 15 menit. Sampai di kamar, aku coba bikin mi instan pakai air panas yang ada di termos di kamar. Tunggu sebentar…dan….blehh!! bukan seperti bayangan mi instan di kampungku!! Aneh! Nggak ada manis, yang ada pedes dan rasanya seperti kare…Akhirnya aku makan tanpa perasaan.

Jam 6 sore kulihat langit masih sangat terang, seperti jam 4 WIB, meskipun sebenarnya selisih cuma 1 jam saja. Aku bosen dan aku takut sendirian di kamar, takut tercekam rasa sepi yang mendalam. Akhirnya aku keluar lagi, sekedar duduk-duduk di pinggir lapangan basket, melihat permainan basket, dan merenungi nasib terdampar disini tanpa kenalan. Mau iseng cari temen baru, masih nggak pede. Aku penasaran dengan temen sekamarku yang nggak kunjung balik ke kamar. Semoga orangnya asyik dan menyenangkan.

Jam 8 malam aku balik ke kamar. Sekarang mungkin baru saja Magrib (disini kan nggak ada adzan..hehe…). Saatnya pulang, bersih-bersih, mandi, dll. Tentu saja sambil nungguin temen baruku itu, aku nyambi beres-beres pakaian dan nonton tv (lagi). Sampai jam 10 malam. Tiba-tiba kudengar suara pintu berusaha dibuka. Cekrek! Cekrek! Aku kaget karena aku baru saja tertidur. Antara takut dan penasaran dengan orang yang ada di balik pintu. Akhirnya kuputuskan untuk membuka pintu yang kukunci dari dalam itu. Ternyata orang itu adalah….

[Ingin tahu siapa orang itu?  Bagaimana perkenalan dengan teman sekamarku? Bagaimana orangnya? Ikuti terus kelanjutan ceritaku...di “A Piece of Memory – Part 3, Episode: Perkenalan dengan orang Korea yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali!]

Lapangan basket di depan asramaku...

Lapangan basket di depan asramaku...

A Piece of Memory in China – Part 1

Di Langit antara Jakarta – Beijing

[*english mode on*]
Suddenly, my memory flies back to the year of 2005. It was my first time I went to China, a place that I have been dreaming to visit since I learnt Chinese Language.

I went to Beijing to study Chinese in one of famous language universities in China, i.e. Beijing Language and Culture University. For ones that study Chinese, this university is quiet familiar. At that time, I’ve been learning Chinese for almost 5 years, but I found my skill did not improve anymore. Someone gave me that opportunity by sacrificing another opportunity of mine. I never regret my decision.

I started to prepare my study there through an education agency. I took a short semester for 5 weeks only. I had the basic skill. I only need to open the tap so I thought 5 weeks is enough. The agency said I will have 3 companions who also plan to study in BLCU. I felt safe, since I never been to China before, 8-hours-flight!

The D-day, suddenly my liaison said those 3 persons canceled to the next term. I was panic! No way! I’ll be alone. I was thinking to cancel my program too. But, it was too late. I have been in the airport when my liaison said that. I have to go on whatever will happen.

[*english mode off*]

Penerbangan dengan maskapai nasional transit ke Singapura berangkat jam 12 malam saat itu tidak terlalu penuh. Bahkan aku duduk sendirian di satu row kursi. Bukan hal yang menyenangkan, malah semakin membuatku panik. Apalagi waktu aku telusuri, kebanyakan penumpang adalah orang China (aku baru tahu di saat-saat terakhir, bahwa mereka sebenarnya WNI bertampang oriental!).

Kalian boleh mengatakan aku kampungan, tapi ini adalah pertama kali aku menggunakan pesawat dengan tujuan internasional. Dengan segala fasilitas untuk penerbangan jarak jauh. Bahkan aku merasa sangat udik dengan peralatan untuk mendengarkan musik dan melihat film yang ada di masing-masing kursi. Wuah, malam itu akan menjadi malam yang sangat melelahkan, kupikir. Untungnya hampir sebagian digunakan untuk tidur, karena malam hari. Masalah Cuma muncul ketika aku ke lavatory, aku lupa kunci pintu…hehe…untung belum ngapa-ngapain.

Beberapa saat sebelum mendarat pagi hari di Bandara Beijing, pramugari memberikanku secarik kertas untuk urusan imigrasi dan bea cukai mungkin. Mana aku tahu, karena semua tulisan dalam huruf China! Penerbangan gila…memang dianggap semua penumpang bisa berbahasa Chinakah?! Meskipun aku sudah belajar, tapi percaya atau tidak, kemampuanku mengalami penurunan hingga titik terendah. Sampai-sampai aku lupa bahwa aku bisa berbahasa China. Sebagian teori mengatakan aku mengalami culture shock, tapi bagaimana mungkin itu terjadi, lha wong mendarat saja belum! i’m alien in this plane!!

Aku tengok kanan kiri, gawat! Semua orang sepertinya tidak punya masalah berarti dengan kertas itu. Dan semua orang sepertinya orang China, bagaimana aku mau tanya?! Pramugari juga tiba-tiba menghilang ketika dibutuhkan. Orang yang terdekat denganku adalah seorang bapak-bapak muda, dia seperti orang China, tapi aku akan mencoba peruntunganku. Aku mencoba gunakan kemampuan telepatiku yang aku yakin sebenarnya aku tidak punya kemampuan itu, aku lirik bapak itu dengan sepenuh hati, berharap dia akan melihat padaku. Voila! Dia menengok ke arahku dan tiba-tiba aku gelagapan..aku lupa pertanyaanku sama sekali! Tapi mungkin karena dia melihat ekspresi panikku dan melihat kertasku yang masih kosong, dengan baik hati dia memberitahukan apa yang harus kulakukan. Tentu saja setelah aku pinjam pulpen. Aku bahkan tidak tahu kalau aku perlu membawa pulpen untuk terbang ke luar negeri. hehehe… Dia memberitahukan banyak hal, termasuk bahwa aku tidak perlu menulis berapa “harta” yang kubawa masuk ke China meskipun ditanya, dan juga aku ga perlu nulis riwayat penyakitku meskipun beberapa kali batuk.

Ketika aku mendarat, aku pikir, kepanikanku akan berkurang. Tapi ternyata, aku justru semakin panik. Rasanya aku ingin memohon ke Pilotnya untuk membawaku kembali ke Indonesia saat itu juga. Tantangan pertama yang kuhadapi setelah pendaratan dan ambil bagasi adalah petugas imigrasi. Well..aku punya sedikit fobia ringan, aku takut polisi dan sejenisnya. Jadi ketika suatu saat aku ‘ditangkap’ polisi tiba-tiba aku banyak melakukan kesalahan bodoh, dan bahkan bertingkah seperti kriminal yang sebenarnya. Hal itu yang kutakutkan ketika aku melakukan pemeriksaan imigrasi. Aku takut aku terlalu gugup sehingga petugas justru akan mengira aku penjahat atau semacamnya. Kegugupan ini biasanya terjadi ketika mereka memindai seluruh wajah kita, mungkin sih untuk dicocokkan dengan foto di paspor, tapi aku jadi khawatir kalau tiba-tiba wajahku berubah dan jadi berbeda banget dengan foto…

Untunglah, pemeriksaan petugas selesai. Mereka menanyakan beberapa hal dalam bahasa China, tapi seperti yang kubilang tadi, kemampuanku berbahasa China jadi menguap, dan aku ga bisa mencerna omongan mereka. Aku Cuma pasang muka bloon, dan mereka kayaknya ga jadi nanya lebih lanjut deh. Sekarang, aku tinggal mencari orang yang akan menjemputku. Waks! Di depanku ada x-ray koper lagi?!? tobat deh, koperku kan maha berat! Sudahlah, kupaksakan angkat koper itu dan Wupsss…..handlenya pecah (aku bawa koper plastik yang katanya kuat, red.).. Halah…tantangan apalagi ini?? Akhirnya dengan malu-malu aku berusaha mengatasi koperku itu dan juga mengurusi 2 tas kecilku yang lain. Tahu nggak, sesaat aku selesai mengatasi koperku, aku lihat di belakangku ada seoarang cewek berwajah China. Wajahnya jauh lebih panik dariku (melihat dia, aku jadi tidak terlalu panik lagi). Dan baru saja, dia kejatuhan kopernya sendiri, saking besarnya…(suerrr, besar bangett!!). Disana, tidak ada yang peduli dengan kami, cewek-cewek, yang kesulitan dengan koper ini.

Setelah keluar dari pintu bandara, aku langsung lihat seseorang bawa papan bernamakan namaku dari Indonesia. Alhamdulillah langsung ketemu. Aku langsung melambaikan tanganku dan menyapanya… Oh My God, petualanganku baru saja dimulai!! Orang yang jemput aku dan yang bakalan ngurusin aku selama disini itu sangat cerewet…bicara panjang lebar dalam bahasa China dan logat yang aneh! Satupun aku ga paham…bagaimana ini????

[ikuti terus cerita ini kalau mau tahu kelanjutannya… Kapan? hehehe…doain cepet ya…]

Bandara

Proses di Bandara. Antara gugup, takut dan antusias.

Laskar Pelangi

I watched an Indonesian movie adapted from bestseller novel “Laskar Pelangi”. Laskar means soldier, n pelangi means rainbow.

This movie based on a true story from Andrea Hirata, the author. It’s about story of amazing teachers who dedicated themselves to educate some unfortunate children. As a rule from the local govrnment, they need to have 10 children as students if they want to open the class.  These poor children really hope to have a proper education because they couldnt afford to study in common schools which are expensive. There are teachers who willing to stay with them even they don’t get enough salary and the facilities of school is not good too.

For these teachers, education is not always material things, is not always good chairs and tables, or other facilities…A good student is not always a student achieved high rank of study. Education is about how the students and the teachers learn morale things, value of life, instead of knowledge itself. A knowledge without a morale value will only make us want to receive or get manythings. Indeed…in this life, we should give manythings to our environment.

This school faces so many obstacle. but they are together to solve the problems one by one. The film told about  their desire to learn so many things in this world, and also to learn about friendship and sincerity.

Everyone should have courages to achieved his dreams. Never afraid to have dreams. How a father is willing to let go his only son to have a better education, instead of helping him fishing in a sea to earn the family living. He wants his only son to have highest dream and work hard to achieve it.

I didn’t read the novel. I might have different impression with others about this movie. But I believe this movie can deliver the message, which is “education is a right for everyone, education has large meaning, not only ballpoint and book, education is knowledge from universe”

I’m sorry about my lack of english. I’m too enthusiast to tell everyone about this movie. The speed of my words can’t describe my impression of this movie. No words can express it exactly.

You may open the link to find out more about this movie, but I’m afraid there is no English subtitle, so you have to wait the dvd. Please enjoy it!

http://www.laskarpelangithemovie.com/

I’m Back, Indonesia!

Hello again Indonesia!

Here me now, in my beloved country, Indonesia! How crowded and hot Indonesia is, I like to be here more than any other places in the world. Well, okay, I’m exaggerating…because my impression to Qingdao is too beautiful to forget.

Qingdao is very beautiful city. A little bit cold, but it’s okay, coz I can wear the style of winter clothes…hahaha… The transportation is good even sometimes the bus is just like a roller coaster.  The people of Qingdao is very warm, they are very friendly and welcome to foreigner like us.

But, maybe the main reason is my new friends. My new friends that I knew there, that I never know how meaningful they are before I said goodbye. I thought they were just a friend for me…an ordinary new friend…but again, I was wrong.

After lived a life together in a month, I felt myself attached to them deeply. We had through all happiness, sadness being afar from our family, and all the feeling after such a long journey in Fujian Prov and Shandong Prov.

Someone called Musue from Liberia made me realized the meaning of friendship. I never thought that we had a deep meaning for her. I never thought she would miss us. I never thought so many things would be different after she said that she really appreciated how we made a friend with her…I felt a friendship! A true friend.

Qingdao indeed is beautiful city…but it would not the same without my new friends there. The moments will not come back even if I’m back to Qingdao. I missed all the moments already even when I’m still in Qingdao Airport.

I knew the moments will never come back again. will never be the same. But, I believe our friendship will stay the same. Our friendship will last forever… Friends from different countries are being together as a small united nations with all differences we brought but we had the same idea…a love of friendship!

Miss you all my friends!

Tak Terasa Pula…

Akhirnya inilah hotel terakhir aku mengembara…di Zibo City, sebelum aku kembali ke Qingdao

Minggu kemaren aku terbang ke Fujian, ke Fuzhou City dan Xiamen City. Banyak banget tempat yang kukunjungi. Dari mulai kuil Buddha terbesar di Fujian sampai menyeberang pulau ke Xiamen. Xiamen terdiri dari dua, daratan dan pulau, banyak banget jembatan panjang2 yang menghubungkan keduanya.

Kembali ke Qingdao semalem, kami lanjutkan perjalanan mengelilingi Provinsi Shandong by bus.

Pertama kita ke Qufu City selama kurang lebih 3,5 jam. Kota yang ga terlalu besar, kecil malah. Hotelnya juga blm ada yang bagus. Tapi, disinilah Konfusian lahir dan berkembang. Semua ada disini, dari perguruannya sampai cemetery nya.

Terus kita lanjut ke Jinan selama 3 jam an juga. Disinilah ibukota Shandong Prov. Kotanya cukup besar. Cuma tetep terasa kota tua.

Setelah itu, kota terakhir dalam trip ini, Zibo City, kota keramik. Sekitar 2 jam an dan kita langsungshopping ke pusat keramik.  Asli murah-murah banget!! tapi kalau inget koper yang udah overload…ga jadi ah.

dan kita lanjutkan perjalanan ke hotel Zibo…lama banget…ternyata kita nyasar. Untungnya nyasar yang cukup lama terbayar dengan hotel terakhir yang mewah dan baru ini.

Besok kita mau ke museum dan kembali ke Qingdao.

Wait for me Indonesia! so many stories I would like to tell you…

←Older